Sabtu, 16 Mei 2009

MENGGALI SRIWIJAYA DI PALEMBANG

Rombongan besar itu terus bergerak. Dua puluh ribu serdadu mengawal seorang raja agung naik perahu menyusuri Sungai Musi dengan perbekalan 200 peti. Rombongan yang berjalan kaki 1.312 tentara. Mereka berangkat dari suatu tempat yang bernama Minanga melakukan perjalanan menuju Mukha Upang selama 29 hari. Sampai di tempat tujuan, sang raja kemudian membangun kampung (wanua). Sang raja menyebut ekspedisi itu sebagai jaya siddayatra, yaitu perjalanan suci untuk kejayaan Sriwijaya.

Kisah perjalanan itu terukir dalam prasasti batu yang ditemukan oleh seorang bangsa Belanda tahun 1920 di Desa Kedukan Bukit di bagian barat Kota Palembang. Prasasti bertulis huruf Palawa dan berbahasa Melayu Kuno itu menyebutkan pada tanggal 16 Juni 682 Masehi, raja yang bernama Dapunta Hiyang Sri Jayanasa mendirikan wanua sebagai tempat istananya yang baru. Wanua itu kemudian berkembang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sampai abad ke-13 Masehi.

Taman Purbakala

Para arkeolog mencari lokasi wanua yang didirikan hampir 1400 tahun yang lalu itu di Palembang. Tempat penemuan Prasasti Kedukan Bukit pun ditelusuri kembali, letaknya di wilayah Karanganyar tidak jauh dari Sungai Musi. Di tempat itu ada Sungai Kedukan Bukit, sungai kecil yang berhubungan dengan Sungai Musi. Melalui foto udara tampak sungai alam itu telah diluruskan menjadi saluran buatan sepanjang 3300 meter memotong meander Sungai Musi. Saluran-saluran buatan lainnya dan kolam-kolam besar serta pulau-pulau buatan terlihat pula pada foto udara. Kawasan Karanganyar memperlihatkan lingkungan binaan zaman lampau .

Sejak tahun 1986 sampai 1993 telah dilakukan penggalian arkeologis di Situs Karanganyar. Ribuan pecahan tembikar (earthenware) dan keramik-keramik asal Cina abad ke-8-10 Masehi ditemukan di dalam tanah. Ada pula manik-manik serta sisa-sisa bangunan kuno dari bata. Saat dilakukan pengerukan saluran kuno ditemukan sisa-sisa kayu perahu kuna. Hasil penelitian menunjukkan pada zaman itu rawa-rawa direklamasi menjadi lahan permukiman.

Sekitar Situs Karanganyar dijumpai situs-situs arkeologi lainnya, yaitu Situs Kambang Unglen, Ladang Sirap, Padang Kapas, dan Talang Kikim. Di Situs Kambang Unglen ditemukan pecahan keramik Cina masa Dinasti Tang (8-10 M) dan Dinasti Song (11-13 M), manik-manik dan sisa pengerjaan manik-manik. Di situs itu juga ditemukan lantai bangunan bata serta fragmen-fragmen prasasti batu. Keramik dari masa yang sama ditemukan pula di Situs Ladang Sirap, Talang Kikim dan Padang Kapas.

Kawasan Situs Karanganyar kemudian ditetapkan sebagai Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) yang diresmikan oleh Presiden Soeharto tahun 1994. Sebuah museum dibangun di tempat itu untuk memamerkan artefak-artefak hasil penelitian sekaligus sebagai pusat informasi Sriwijaya. TPKS dapat dikembangkan menjadi obyek wisata budaya sekaligus terlestarikannya sisa peninggalan masa Sriwijaya.

Bukit Siguntang

Di bagian utara situs Karanganyar terdapat Bukit Siguntang, bukit sakral masa Sriwijaya. Bukit yang tingginya sekitar 26 meter di atas permukaan laut itu adalah tanah yang paling tinggi di Palembang. Dahulu kala Bukit Siguntang dijadikan pedoman atau tanda oleh para nakhoda kapal menuju pelabuhan Sriwijaya ketika melayari Sungai Musi dari muaranya. Kini landmark Sriwijaya itu sangat sulit dilihat dari Jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi. Terhalang gedung-gedung tinggi yang tumbuh pesat di Kota Palembang.

Bukit Siguntang sekarang menjadi ajang muda-mudi memadu kasih. Di antara rimbunnya pepohonan berdiri bangunan-bangunan modern yang menghilangkan citra dan alam Sriwijaya. Di puncak bukit berdiri bangunan-bangunan menara pandang dan makam-makam baru yang dimitoskan sebagai makam tokoh-tokoh yang menurunkan raja-raja Melayu di Sumatera dan di Semenanjung. Sosok menara pemancar seluler menjulang tinggi di kaki bukit. Semua itu menciptakan polusi visual lingkungan situs.

Padahal bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa Bukit Siguntang merupakan tempat bersejarah masa Kerajaan Sriwijaya. Sesosok arca Buddha dari batu dengan tinggi 3,6 meter yang kini dipajang di halaman Museum Sultan Mahmud Baddaruddin II di tepi Sungai Musi, berasal dari Bukit Siguntang yang ditemukan tergeletak di lereng selatan bukit. Terkait dengan arca itu terdapat sisa-sisa bangunan stupa dari bata, arca bhodisatwa, kepala arca Buddha dari perunggu,lempengan emas bertulis dan dua prasasti batu.

Artefak-artefak itu menggambarkan Bukit Siguntang sebagai tempat peribadatan kaum agama Buddha sejak abad ke-6 Masehi. Peranan Sriwijaya dalam pengembangan agama Buddha telah dikenal melalui Berita Cina. I-Tsing menceritakan dalam kitabnya yang ditulis antara tahun 691-692 Masehi bahwa Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha. Tercatat lebih dari 1000 orang bhiksu belajar di negeri bahari itu.

Salah satu fragmen prasasti batu dari Bukit Siguntang mengisahkan peperangan. Penggalan-penggalan kalimat dalam bahasa Melayu Kuno dari abad ke-7 Masehi itu berbunyi “tidak tahu berapa banyak yang berperang” dan “banyak darah yang tertumpah”. Isi prasasti itu menambah misteri Bukit Siguntang yang baru sedikit tersingkap oleh arkeolog.

Kota di Bawah Kota

Selain prasasti Kedukan Bukit , ditemukan prasasti batu lainnya yang berangka tahun di Palembang, yaitu Prasasti Talang Tuo (684 Masehi). Prasasti ini berisi tentang perintah Dapunta Hiyang membuat Taman Sriksetra dengan bermacam tanaman yang buahnya dapat dimakan dan telaga yang dapat dinikmati oleh orang banyak, terutama para musafir. Lokasinya tentu tidak jauh dari pusat Kerajaan. Para arkeolog menyambangi lokasi penemuan prasasti itu di Desa Talang Tuo. Tempat itu berada di tanah kering yang lebih tinggi. Tampak sekarang lokasi Taman Sriksetra telah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan tanah di sekitarnya terus menerus ditambang untuk bahan bangunan perumahan-perumahan baru yang berkembang pesat di Kota Palembang.

Sisa-sisa peradaban Sriwijaya tidak hanya terdapat di bagian barat Kota Palembang, tetapi memanjang mengikuti aliran Sungai Musi. Singkat kata, kota Sriwijaya abad ke-7 hingga ke-13 Masehi hampir seluas Kota Palembang sekarang. Selain Bukit Siguntang, terdapat tempat suci lainnya yaitu Candi Angsoka, Candi Gedingsuro, dan Sabokingking yang terdapat di bagian tengah dan timur Kota Palembang.

Pada bagian tengah kota terdapat bangunan-bangunan masa Kesultanan Palembang dari abad ke-18 – 19 Masehi. Salah satunya adalah bangunan yang sekarang difungsikan sebagai Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, letaknya di sebelah Benteng Kuto Besak (BKB) dan menghadap ke sungai. Penggalian arkeologis dilakukan di halaman museum sampai kedalaman lebih dari empat meter dari permukaan tanah. Ternyata di lokasi itu kaya dengan temuan keramik dari masa ke masa. Keramik tertua berasal dari Cina dari abad ke-5 Masehi, hingga keramik Eropa pada masa kolonial Belanda. Arkeolog beranggapan tempat ini telah didiami selama berabad-abad, sejak awal tumbuhya wanua Sriwijaya hingga masa sekarang.

Lokasinya memang strategis, yaitu di tepi Sungai Musi yang paling lebar sehingga dapat dilayari puluhan kapal besar. Hasil penggalian di tengah kota Palembang itu memperkuat anggapan bahwa pusat Kota Sriwijaya terletak di pusat Kota Palembang. Tampaknya di bawah kota tersimpan sisa-sisa kota Sriwijaya di dalam tanah dan rawa.

Tidak ada komentar: