Sabtu, 16 Mei 2009

LEGIMIN DAN TITIPAN PRA-SRIWIJAYA

Tas hitam yang dibawa dari kampung dibukanya dengan sigap. Isinya bukan berkas-berkas penting apalagi tumpukan uang. Tak disangka lelaki berwajah keras itu mengeluarkan kepingan-kepingan tembikar, bandul jaring dari tanahliat, tempurung kelapa, potongan kayu dan tulang hewan, pecahan bata, batu asah, sejumput manik-manik dan seikat tali ijuk dari dalam tas.

“Ini contoh-contoh temuan yang ditemukan di belakang rumah saya, waktu membuat parit”, ujar Legimin (43) seorang transmigran asal Malang (Jawa Timur) yang kini jadi warga Desa Karangagung Tengah, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Menempuh jarak waktu 4 jam dengan perahu motor dari kampungnya ke Kota Palembang, hanya untuk memperlihatkan benda-benda usang dan tidak utuh lagi memang tidak lazim. Namun kirimannya itu menjadi kado istimewa buat purbakalawan di Balai Arkeologi Palembang yang menekuni bukti-bukti peradaban sebelum munculnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.

Pra-Sriwijaya

Artefak-artefak yang dibawa Legimin berasal dari Situs Karangagung Tengah yang terletak di kampungnya. Situs itu kemudian menjadi terkenal di dunia arkeologi, ketika beberapa tahun yang lalu analisa laboratorium terhadap dua potong kayu bekas tiang rumah panggung zaman kuna, menghasilkan pertanggalan 1624 – 1629 BP, kira-kira sama dengan tahun 326 – 329 Masehi.

Penelitian arkeologis secara intensif sejak tahun 2000 sampai sekarang, semakin memperkuat teori bahwa pada abad ke-4 Masehi telah ada komunitas di daerah pantai Sumatra Selatan yang aktif dalam perdagangan internasional. Komunitas yang cukup padat dan telah mengenal spesialisasi pekerjaan dan stratifikasi sosial.

Letak situs dekat Selat Bangka, selat yang dikenal sebagai ajang perdagangan internasional pada awal Masehi. Komoditas impor yang ditemukan di situs, antara lain manik-manik dari India dan Asia Barat.

Situs Karangagung diidentifikasi sebagai situs masa proto sejarah, kemudian arkeolog memberi istilah situs pra-Sriwijaya. “Disebut situs pra-sriwijaya karena masanya sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang, dan juga pertimbangan faktor lokasi yang tidak jauh dari persebaran situs-situs Sriwijaya di Sumatra Selatan dan Jambi”, ujar Drs. Tri Marhaeni, ketua tim penelitian.

Tak pelak, ditemukannya Situs Karangagung sekitar tahun 2000 telah merubah teori perubahan garis pantai timur Sumatra dalam kaitannya dengan lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya. Teori yang menyatakan lokasi Sriwijaya di Palembang maupun di Jambi terletak pada tanjung di tepi laut sekitar abad ke-7 Masehi. Tampaknya teori itu perlu dipertimbangkan lagi, setelah ditemukannya permukiman Karangagung dari masa yang lebih tua daripada Sriwijaya (Soeroso, 2002).

Museum Situs

Setelah lebih dari seribu tahun terkubur dalam kesunyian, situs Karangagung mulai diusik manusia. Pada tahun 1987 hingga 1990 daerah Karangagung mulai dibuka sebagai lahan transmigrasi, menyusul dibukanya lahan transmigrasi di Air Sugihan beberapa tahun sebelumnya. Maka dimulailah eksploitasi kekayaan arkeologi Situs Karangagung.

Legimin mengisahkan, tahun 1997-1998, terjadi booming manik-manik dan benda-benda berlapis emas dari Situs Karangagung. Saat itu penduduk berburu manik-manik dari bahan kaca berlapis emas, bahan batu, kaca dan perunggu. Semua benda relik itu jadi komoditas yang laku keras.

Jual-beli manik-manik dilakukan menurut panjang manik-manik yang dirangkai. Harga manik-manik emas Rp 40.000/cm, manik-manik perunggu Rp.5.000/cm, manik-manik batu Rp 500/cm, sedangkan dari bahan lainnya Rp 1000/cm. Umumnya para penadah manik-manik berasal dari luar Karangagung. Legimin teringat ada seorang penadah berhasil mengumpulkan manik-manik sampai satu karung beras seberat 20 kilogram. Manik-manik itu kemudian dibawa ke Jawa dan akhirnya ke Bali.

Bisnis artefak mulai surut ketika instansi purbakala di Palembang dan Jambi melakukan penyuluhan kepada penduduk, selain artefak semakin berkurang diambili penduduk. Legimin aktif membantu para purbakalawan. Bukan itu saja, ia rajin mengumpulkan artefak-artefak yang tidak laku dijual, seperti pecahan-pecahan tembikar, bata kuna, dan potongan kayu, lalu ditata di halaman rumahnya.

“Saya telah membuat museum situs di halaman rumah”, ujar Legimin. Istilah “museum situs” diperolehnya dari arkeolog yang kerap melakukan penelitian dan tinggal di rumahnya. Baginya mengumpulkan dan memajang artefak di depan rumah agar dilihat tamu tentang bukti-bukti peradaban abad ke-4 Masehi, itu adalah museum situs.

Mengapa Legimin membawa artefak-artefak “rongsokan” ke Palembang?

“Saya ingat pesan teman-teman dari arkeologi, terutama Pak Roso, kalau menemukan lokasi temuan yang paling padat dan beraneka ragam, supaya melaporkan. Parit yang saya gali padat dan lengkap temuannya, pak”, kata Legimin menjelaskan maksud kedatangannya di Palembang, sambil melaporkan ada warga yang menyimpan tujuh patung perunggu berukuran kecil. Pak Roso yang dimaksud adalah Drs. Soeroso MP,MHum, salah satu peneliti yang pertama mengungkap identitas Situs Karangagung Tengah, dan kini selaku Direktur Peninggalan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Legimin yang pernah menempuh karir sebagai petinju di Malang, pertama kali ikut transmigrasi ke Air Sugihan tahun 1980, dan mulai menetap di Karangagung pada akhir tahun 1989. Air Sugihan, yang letaknya di sebelah timur Karangagung (masuk Kabupaten Banyuasin) dikenal juga kaya dengan artefak pra-Sriwijaya. Daerah ini yang terlebih dulu dieksploitasi kekayaan arkeologinya, terutama manik-manik dan keramik. Dari Air Sugihan kemudian para pemburu harta karun mengalihkan perhatian ke Karangagung.

Legimin hidup tenang di Karangagung bersama keluarga. Usahanya sebagai petani dan tukang tambal gigi mampu menghidupi seorang istri dan lima orang anaknya, bahkan putrinya yang sulung dapat kuliah di Malang. Sebagai tukang tambal gigi Legimin keliling kampung dengan sepeda mencari pasien, sambil mengumpulkan artefak-artefak “rongsokan” untuk koleksi museum situsnya.

Museum terbuka Legimin kini telah diberinya atap rumbia agar benda-benda koleksi tidak kepanasan dan kehujanan. Diakuinya museum itu diwujudkan karena kekagumannya pada umur artefak-artefak Karangagung yang lebih tua dari kerajaan Sriwijaya, setelah ia mendengar informasi dari para purbakalawan yang sering berdiskusi di rumahnya yang sederhana.

Legimin memang bukan Ir. Maclaine Pont yang rajin mengumpulkan benda-benda peninggalan Majapahit di Trowulan Jawa Timur pada tahun 1924 -1926. Arsitek bangsa Belanda, yang merekonstruksi ibukota Majapahit, itu membangun gedung yang kokoh dan megah untuk menyelamatkan artefak Majapahit, sementara Legimin membangun museumnya dengan bahan apa adanya. Bagi Legimin benda-benda itu adalah titipan leluhur dari tanah Sriwijaya. Walaupun bukan tanah kelahirannya, kekayaan arkeologi di bumi Sriwijaya yang dipijaknya kini perlu dijaga.


Tidak ada komentar: